PLN. Paksa Hemat Atau “Menaikkan” Tarif? Tapi kalau begini lingkungan juga makin Hijau!

3 Maret, 2008

plnKita sebagai orang-orang yang peduli lingkungan pasti sudah terbiasa dengan hidup hemat energi, mematikan listrik, dsb. Sekarang PLN juga punya “program” hemat energi dengan cara memaksa pelanggan menurunkan konsumsi listriknya, tidak peduli gaya hidup yang ada. PLN bilang kita harus bisa berhemat sehingga mendapat insentif atau akan diberikan disinsentif untuk melanggar konsumsi “rata-rata” nasional.

Sekarang untuk kita yang tinggal di daerah yang berbeda-beda di seluruh Indonesia apakah bisa disamakan? Rata-rata nasional diambil dari mana? Apakah bisa dengan mudah membuat perhitungan sendiri? Untuk kita yang di kota besar, sudah pasti kita terkena disinsentif. Kawan saya yang memiliki rumah sederhana pun terkena disinsentif.

Tetapi, untuk lingkungan hidup, ini pasti jadi lebih baik :) walaupun saya sendiri sebal.

Dibawah ini adalah tabel untuk perumahan. Cocokkan sendiri golongan tarif anda dari kwitansi PLN.

Golongan Tarif

Rata-Rata Nasional

Batas Maksimum

R1 - TR (s.d 450 VA)

75 kWn

60 kWh

R1 - TR (900 VA)

115 kWh

92 kWh

R1 - TR (1300 VA)

197 kWh

158 kWh

R1 - TR (2200 VA)

354 kWh

283 kWh

R2- TR (2201 - 6600 VA)

650 kWh

520 kWh

R3 - TR (6601 - 197.000 VA)

1767 kWh

1413.6 kWh

Berikut adalah contoh perhitungan yang diambil dari infokito.wordpress.com:

Formula Insentif
Ins = 20% x kWh ins x He

dimana
kWh ins = kWhRN - kWhPP
kWhRN : kWh pemakaian rata-rata nasional
kWhPP : kWh pemakian pelanggan
He : tarif tertinggi pada golongan pelangan maksimum

Formula Disinsentif
Dis = 1,6 x kWh dis x He
dimana
kWh dis = (kWhPP - 80% kWhRN)

Perhitungan insentif ini adalah 20% dari selisih pemakaian rata-rata nasional dengan pamakaian pelanggan dikalikan tarif listrik. Sedangkan formula perhitungan disinsentif adalah 1,6 dikali selisih pemakaian pelanggan dengan 80% rata-rata pemakaian nasional dikalikan tarif listrik.

Berikut contoh perhitungan insentif:
Misalnya pelanggan R1 (450 VA), dengan jumlah pemakaian listrik bulan Maret sebesar 50 kWh. Perhitungannya adalah 20% x (75 kWh - 50 kWh) x Rp530 = Rp2.650.
Nilai Rp2.650 ini adalah jumlah potongan (insentif) pelanggan tersebut. Rp530 adalah harga tarif dasar listrik untuk R1 yang paling mahal.
Jadi, jumlah yang harus dibayarkan pelanggan ini adalah (50 kWh x Rp530) - Rp2.650 = Rp26.500 - Rp2.650 = Rp23.850.

Berikut contoh perhitungan disinsentif:
Misalnya jumlah pemakaian pelanggan R1 (450 VA) sebesar 90 kWh. Perhitungan nilai disinsentifnya adalah 1,6 x (90 kWh - 60 kWh) x Rp530 = Rp25.440.
Jumlah yang harus dibayar pelanggan ini adalah (90 kWh x Rp530) + Rp25.440 = Rp47.700 + Rp25.440 = Rp73.140.

Jadi? Memang dengan pemaksaan ini kita diajak untuk berintrospeksi juga, apakah gaya hidup yang dijalankan selama ini memang boros. Seperti kata Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi Departemen ESDM J Purwono, “Kami memang memaksa pelanggan berhemat sebab pemakaian listrik sudah terlalu boros.”

Jadi semua ini harus dilihat dari sisi baiknya. Mungkin dengan berhemat dan bisa jadi mengurangi pembuatan Pembangkit Tenaga Listrik baru, atau bisa juga penghematan bahan bakar batu bara dan minyak yang dipakai oleh Pembangkit Tenaga Listrik maka pada akhirnya kebiasaan kita bisa berubah, polusi berkurang, dan akhirnya lingkungan semakin hijau!

Entry Filed under: Berita Lingkungan Lokal. .

12 Comments Add your own

  • 1. Eka  |  3 Maret, 2008 at 7:15 pm

    Sayangnya PLN sendri masih belum optimal mengurangi angka pencurian listrik oleh industri dan rumah orang2 (yang katanya berada).

  • 2. abah oryza  |  3 Maret, 2008 at 8:46 pm

    kita terbiasa di paksa, tapi ini lebih baik, karena kita di beri pilihan.

  • 3. Soal Ulangan PLN « &hellip  |  4 Maret, 2008 at 12:46 am

    [...] 450 VA) , keluarga itu tidak dapat subsidi karena kelebihan dari beban maksimum yang 60 kWh menurut skema tarif yang berlaku di PLN sekarang. Beda kalau keluarga tersebut berlangganan dengan tarif  R1 - TR (900 VA), yang dapat [...]

  • 4. t3guhbs  |  4 Maret, 2008 at 11:28 am

    Setuju mas, untuk itikad hemat energinya. Tapi dalam program ini, PLN memberikan dua pilihan buruk.
    1. Angka rata-rata konsumsi listrik nasional yang tak masuk akal. 90% pelanggan pasti takkan mampu mengatur konsumsi listrik di bawah batas maksimum. Itungan Mas Yahya sudah klop tuh.
    2. Sosialisasi yang terlalu pendek. Pelanggan sudah bertahun-tahun dininabobokan dengan listrik seolah tak terbatas. Apa bisa hanya dalam waktu 2 pekan sosialisasi (seperti keterangan PLN sendiri), bisa menghemat konsumsi listrik sampai 50%-80% dari biasanya?

    Untunglah, pusat cepat sadar untuk merevisinya.

  • 5. Hedwig™  |  4 Maret, 2008 at 3:33 pm

    Rata-rata nasional itu rumusnya dari mana, apakah sama antara pengguna di Jabotabek dengan di Papua sana.
    Saya pikir, pelanggan PLN di Jabotabek bakalan lebih banyak yang akan terkena denda.

  • 6. Tobichan  |  4 Maret, 2008 at 8:35 pm

    PLN terlalu gegabah, darimana mereka dapat perhitungan rata2 komsumtif yang rendah banget begitu. Tidak Masuk Akal.

    Lebih baik memakai voucer saja seperti pulsa.

    Dengan begitu kita diberi batas yang kita tentukan sendiri

  • 7. rumahkayubekas  |  5 Maret, 2008 at 7:53 am

    Penghematannya ok.
    Pukul- ratanya?
    Rupanya PLN harus menghitung- ulang lagi…

  • 8. igogreen  |  5 Maret, 2008 at 8:45 am

    Well well menurut aku sih,PLN kok pake zaman OrBa yah ada acara hukuman segala. Kalo menurut aku yang efektifnya sih cukup dengan diskon saja,Masyarakat tentunya akan tergiur bahkan berlomba-lomba untuk menurunkan konsumsi listrik mereka. Kalo ada hukumannya seperti denda itu namanya PLN mo cari duit setelah memberikan diskon. ^^ Well well kita lihat bagaimana kebijakan pemerintah kita saja nantinya.

    I Go Green
    Satu orang berkata ingin hijau adalah sebuah berkah bagi bumi ini

  • 9. realylife  |  5 Maret, 2008 at 3:49 pm

    sebenarnya cuma ingin tarif yang murah dan pelayanan yang baik supaya ndak byar pet , itu saja

  • 10. Andi Gunawan  |  9 Maret, 2008 at 9:27 pm

    Sistem disinsetif sangat memukul industri rumah, seperti konveksi, biaya produksi tinggi dan merugikan industri UKM, sementara pasar pertekstilan tidak kondusif gimana???

    Jika bumi ingin hijau, maka bangun pembangkit listrik yang ramah lingkungan seperti tenaga air, angin, pasang laut, panas bumi dan matahari tidak menggunakan energi yang berasal dari fosil.

    Segitu dulu yaa,,, salam kenal, aku biasa nongkrong di : http://www.AyoBangkitIndonesiaku.wordpress.com

  • 11. woX stiLL bLogGing »&hellip  |  10 Maret, 2008 at 11:45 am

    [...] hemat tapi bila melebihi pemakaian nasional maka kita kena tambahan biaya. Dengan cara seperti ini PLN memaksa kita untuk hemat. Tapi yang menjadi patokan adalah pemakaian rata2 nasional. Nasional? dimana om [...]

  • 12. Monang  |  4 Mei, 2008 at 3:02 pm

    Niat PLN sudah baik dan tak mungkin ada solusi atau rumusan yang dapat memuaskan atau diterima semua orang. Apapun ukuran yang diambil pasti ada saja tanggapan terhadapan kebijakan itu. Memang perubahan mahal harganya tapi hanya dengan perubahan semua bisa diperbaiki.

    Contoh : (Yakin ini juga pasti diprotes). Kalo plg di Jabotabek lebih beresiko kena disinsentif kaena pemakaian, kasian dong juga saudara kita di Papua yang sipasok dengan infratsruktur yang lebih rendah dr Jakarta harus bayar sama per kWhnya kalo gak ada insentif.

    Atau, gimana ya kalo harga dibuat regional ?. Menurut aku…listrik memang mahal dan kita sudah harus berhijau. Walau aku juga sering sebel kalo listrik suka mati dan informasinya kurang responsif.

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Agenda

13-29 Juni 2008
BOGOR FLORA EXPO 2008.
Depan Gedung Tegar Beriman Pemda Kab Bogor

28 Juni 2008
Go Green PSM-ADENIUMANIA.
Bagi-bagi 1.000 pot tanaman adenium secara cuma-cuma kepada masyarakat di halaman McDonald's Cibubur, pada Sabtu, 28 Juni 2008, pukul 07.00 - 10.00.

29 Juni 2008
Rotary Club Green-A-Thon

29 Juni 2008
Greenpeace Supporter Gathering
Grand Indonesia Mall
Atrium East Mall Lt. 1
13:30 - 16:00

27 - 29 Juni 2008
Pameran Lingkungan Hidup Sukabumi
Lapangan Merdeka, Kota Sukabumi

1-3 Juli 2008
Pameran Indo Livestock

Pilih Kategori Anda

Archives

Top Posts

Artikel Sebelumnya

Survey

RSS Aku Belajar Hijau

Kampanye Hijau





Reduce Reuse Recycle Repair

Blogroll

Statistik Pengunjung

  • 174,028 Pengunjung

Statistik

Links