Pertumbuhan Penduduk: Ancaman Terbesar Masalah Lingkungan

4 Mei, 2008

“We must alert and organise the world’s people to pressure world leaders to take specific steps to solve the two root causes of our environmental crises - exploding population growth and wasteful consumption of irreplaceable resources. Overconsumption and overpopulation underlie every environmental problem we face today.”

Jacques-Yves Cousteau

Populasi manusia adalah ancaman terbesar dari masalah lingkungan hidup di Indonesia dan bahkan dunia. Setiap orang memerlukan energi, lahan dan sumber daya yang besar untuk bertahan hidup. Kalau populasi bisa bertahan pada taraf yang ideal, maka keseimbangan antara lingkungan dan regenerasi populasi dapat tercapai. Tetapi kenyataannya adalah populasi bertumbuh lebih cepat dari kemampuan bumi dan lingkungan kita untuk memperbaiki sumber daya yang ada sehingga pada akhirnya kemampuan bumi akan terlampaui dan berimbas pada kualitas hidup manusia yang rendah.

Antara 1960 dan 1999, populasi bumi berlipat ganda dari 3 milyar menjadi 6 milyar orang. Pada tahun 2000 populasi sudah menjadi 6.1 milyar. PBB memprediksi bahwa populasi dunia pada tahun 2050 akan mencapai antara 7.9 milyar sampai 10.9 milyar, tergantung ada apa yang kita lakukan sekarang. Dapatkah anda bayangkan berapa banyak bahan pangan, lahan untuk pertanian, lahan untuk perumahan, dan barang konsumsi lainnya yang dibutuhkan oleh penduduk yang begitu banyak?

Dengan tingginya laju pertumbuhan populasi, maka jumlah kebutuhan makanan pun meningkat padahal lahan yang ada sangat terbatas. Untuk memenuhi kebutuhan makanan, maka hutan pun mulai dibabat habis untuk menambah jumlah lahan pertanian yang ujungnya juga makanan untuk manusia. Konversi hutan menjadi tanah pertanian bisa menyebabkan erosi. Selain itu bahan kimia yang dipakai sebagai pupuk juga menurunkan tingkat kesuburan tanah. Dengan adanya pembabatan hutan dan erosi, maka kemampuan tanah untuk menyerap air pun berkurang sehingga menambah resiko dan tingkat bahaya banjir.

Perkembangan urbanisasi di Indonesia perlu dicermati karena dengan adanya urbanisasi ini, kecepatan pertumbuhan perkotaan dan pedesaan menjadi semakin tinggi. Pada tahun 1990, persentase penduduk perkotaan baru mencapai 31 persen dari seluruh penduduk Indonesia. Pada tahun 2000 angka tersebut berubah menjadi 42 persen. Diperkirakan pada tahun 2025 keadaan akan terbalik dimana 57 persen penduduk adalah perkotaan, dan 43 persen sisanya adalah rakyat yang tinggal di pedesaan. Dengan adanya sentralisasi pertumbuhan dan penduduk, maka polusi pun semakin terkonsentrasi di kota-kota besar sehingga udara pun semakin kotor dan tidak layak.

Kota-kota besar terutama Jakarta adalah sasaran dari pencari kerja dari pedesaan dimana dengan adanya modernisasi teknologi, rakyat pedesaan selalu dibombardir dengan kehidupan serba wah yang ada di kota besar sehingga semakin mendorong mereka meninggalkan kampungnya. Secara statistik, pada tahun 1961 Jakarta berpenduduk 2,9 juta jiwa dan melonjak menjadi 4,55 juta jiwa 10 tahun kemudian. Pada tahun 1980 bertambah menjadi 6,50 juta jiwa dan melonjak lagi menjadi 8,22 juta jiwa pada tahun 1990. Yang menarik, dalam 10 tahun antara 1990-2000 lalu, penduduk Jakarta hanya bertambah 125.373 jiwa sehingga menjadi 8,38 juta jiwa. Data tahun 2007 menyebutkan Jakarta memiliki jumlah penduduk 8,6 juta jiwa, tetapi diperkirakan rata-rata penduduk yang pergi ke Jakarta di siang hari adalah 6 hingga 7 juta orang atau hampir mendekati jumlah total penduduk Jakarta. Hal ini juga disebabkan karena lahan perumahan yang semakin sempit dan mahal di Jakarta sehingga banyak orang, walaupun bekerja di Jakarta, tinggal di daerah Jabotabek yang mengharuskan mereka menjadi komuter.

Pada akhirnya, pertumbuhan populasi yang tinggi akan mengakibatkan lingkaran setan yang tidak pernah habis. Populasi tinggi yang tidak dibarengi dengan lahan pangan dan energi yang cukup akan mengakibatkan ketidakseimbangan antara supply dan demand yang bisa menyebabkan harga menjadi mahal sehingga seperti yang sedang terjadi sekarang, inflasi semakin tinggi, harga bahan makanan semakin tinggi sehingga kemiskinan pun semakin banyak. Semakin menurunnya konsumsi masyarakat akan menyebabkan perusahaan merugi dan mem-PHK karyawannya sebagai langkah efisiensi, sehingga semakin banyak lagi kemiskinan.

Jadi, kita mudah saja bilang, kapan negara kita bisa swasembada? Apa bisa kalau masih mau punya banyak anak? Bagaimana dengan masa depan anak cucu kita kalau lahan sudah tidak tersedia, tanah rusak akibat bahan kimia, air tanah tercemar dan bahkan habis sehingga tidak bisa disedot lagi? Bagaimana kita mau menghemat makanan dan air kalau populasi terus berkembang gila-gilaan?

Populasi seperti hal yang besar dan politis yang diomongkan banyak orang. Tetapi hal ini juga merupakan hal yang dapat dilakukan oleh setiap orang. Seperti yang telah kita lakukan dahulu dan berhasil, kita bisa Ikut program Keluarga Berencana (KB) atau paling tidak memiliki rencana KB sebagai komposisi keluarga yang ideal. Kalau tidak mau pusing soal KB, paling tidak pakai kondom dan jika anda malu untuk beli kondom di tempat publik maka sekarang sudah bisa beli lewat internet melalui kondomku.com sehingga tidak perlu malu lagi untuk membeli di toko.

Krisis pangan sudah dimulai di seluruh dunia. Harga semakin melejit dan pada akhirnya bukan karena kita tidak mampu membeli makanan, tetapi apakah makanan itu bisa tersedia. Kalau bukan kita yang bertindak dari sekarang, masa depan anak dan cucu kita bisa benar-benar hancur sehingga kita yang berpesta pora pada saat ini baru akan merasakan akibatnya nanti.

Sumber:
Bapeda Jabar
BKKBN

Entry Filed under: Fakta Lingkungan, Manifesto Hijau. .

14 Comments Add your own

  • 1. winsolu  |  5 Mei, 2008 at 3:51 pm

    solusinya gimana yah?
    bingung nih

  • 2. bosangjay  |  5 Mei, 2008 at 4:46 pm

    Banyak anak banyak rejeki, sebetulnya disaat ini program KB menurut saya sudah habis masa jayanya. Jangankan di masyarakat pedesaan yang tingkat pendidikannya relatif lebih rendah dari pada di kota, bahkan teman-teman saya di Universitas cenderung berpendapat : “Banyak anak banyak rejeki”.

  • 3. Elisa Sutanudjaja  |  5 Mei, 2008 at 6:13 pm

    Seperti kata Malthus :) Populasi bertambah seperti deret ukur, sementara panganya seperti deret hitung. Apalagi, pangan nya sudah mulai dialihkan menjadi bio energi, sighhh …

    Kita sempat swasembada, sampai bulog ditutup paksa oleh IMF, sehingga sekarang harga beras tidak bisa dikontrol, dan bisa dipermainkan oleh pasar.

  • 4. iip  |  6 Mei, 2008 at 2:54 pm

    Teori malthus tidak pernah terbukti. Akarnya mungkin bukan pertumbuhan penduduk, tapi distribusi sumberdaya yang tidak merata.

    Krisis pangan yang sekarang terjadi bukan karena kebutuhan pangan yang meningkat, tapi karena banyak produsen pangan yang lebih memprioritaskan ketahanan pangan negaranya. Indonesia bisa surplus beras, tapi tidak bisa ekspor karena syarat untuk mencapai level aman belum sampai.

  • 5. yoga  |  6 Mei, 2008 at 9:39 pm

    100 th kebangkitan nasional, 100% persen laju pertumbuhan penduduk

  • 6. lilamr  |  8 Mei, 2008 at 10:26 am

    kalau menurut saya, lebih tepatnya bukan pertumbuhan penduduk. Tapi “keserakahan penduduk”. karena dari sekian banyak manusia, yang paling menyebabkan kerusakan lingkungan kan hanya beberapa gelintir manusia serakah saja, bukan seluruh manusianya.

    lagi pula, justru teori semacam teori malthus inilah yang menurut saya menjadi salah satu pemicu kerusakan. sifat manusia yang egois, dipicu oleh teori yang mengatakan bahwa sumberdaya bumi tidak mencukupi, melahirkan manusia yang hanya mementingkan diri. mengumpulkan sumberdaya sebanyak-banyaknya untuk diri sendiri (karena takut kekurangan) tanpa memperdulikan orang lain dan lingkungan sekitar.

  • 7. cathy  |  10 Mei, 2008 at 1:52 pm

    jd solusinya apa donk???? prinsip punya anak byk kayaknya udh ndak berlaku buat org2 kota deh…yg hrs d beri penyuluhan adl org2 yg desa itu udh hidupnya pas2an msh jg punya byk anak.
    trus buat pengembang properti lainnya, jgn cuman mikirin untung tp mikirin jg agar kota tuh lbh hijau dan bebas banjir… untung aku ndak tinggal d jkt.

  • 8. tobadreams  |  14 Mei, 2008 at 7:53 pm

    Ini persoalan klasik yang selalu diambangkan karena berbenturan dengan etika dan moral agama.

    Membingungkan memang, tapi masalahnya sangat nyata, bahwa musuh manusia adalah dirinya sendiri.

  • 9. pras  |  15 Mei, 2008 at 5:18 pm

    Wah kita harus tau jawabannya biar ga gitu truz…. :D
    Salam kenal yach,..
    GBU

  • 10. aziz  |  16 Mei, 2008 at 3:36 pm

    maav tapi condom bukan solusi!

  • 11. Aku Ingin Hijau  |  16 Mei, 2008 at 4:54 pm

    aziz.

    memang kondom bukan satu2nya solusi. tapi salah satu solusi. habis kalau nggak bagaimana dong kita bisa menekan populasi. saya pun sebenarnya agak bingung. dan benar kata tobadreams. ini masalah klasik dan bisa berbenturan dengan masalah agama. kalau teman-teman ada solusi lain, ayo kita diskusikan bersama.

    apa semua pasangan menikah musti “puasa”. hehehe… :) itu malah gawat….

  • 12. yanuar  |  17 Mei, 2008 at 10:57 pm

    fakta globalnya, di sebagian besar negara maju, malah pertumbuhan penduduk terus menurun. mereka beralasan punya anak adalah hal yang menyebalkan, sulit dan menakutkan. :( mungkin bisa kita invasi via TKI? :D (usul nggak serius, jangan ditanggapi)

  • 13. jaelunzz  |  20 Mei, 2008 at 11:25 am

    gampang koq. bnyk ilmuan di indonesia, tapi mereka gak mampu menemukan ramuan untuk memperlambat kesuburan manusia di indonesia. kita bisa mencampuri ramuan tersebut dari makanan. dan disini peran pemerintah perlu sekali sebagai pengambil keputusan yang akan menentukan kearah mana bangsa ini.
    setahu saya beras yang banyak mengandung kahbohidrat tinggi dapat memacu tinggkat kesuburan manusia dan akan menambah gairah bersenggama..hahaha…(cuma tahu sdikit doang, klw salah kasih tau ya?). nah bisa nggak ilmuan kita mensiasati bahan makanan pengganti beras tapi dengan teknologi dia bisa merubah rasa bahan makanan tersebut kayak beras. misalnya sagu dirubah jadi beras rojolele, cianjur, dll. rumput laut dirubah menjadi rasa beras? soalnya mau makan apa lg bangsa kita ini? beras aja impor? mau ga mau harus ada alternatif pengganti beras. nah tinggal merubah habbit bangsa ini yg bisa mkn beras aja..
    piss ahhh…

  • 14. jojo  |  9 Juni, 2008 at 1:11 am

    gw setuju ama azis, kondom emang bkan solusi yang baik tapi harus ada kesadaran dari kita sendiri.

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Agenda

13-29 Juni 2008
BOGOR FLORA EXPO 2008.
Depan Gedung Tegar Beriman Pemda Kab Bogor

28 Juni 2008
Go Green PSM-ADENIUMANIA.
Bagi-bagi 1.000 pot tanaman adenium secara cuma-cuma kepada masyarakat di halaman McDonald's Cibubur, pada Sabtu, 28 Juni 2008, pukul 07.00 - 10.00.

29 Juni 2008
Rotary Club Green-A-Thon

29 Juni 2008
Greenpeace Supporter Gathering
Grand Indonesia Mall
Atrium East Mall Lt. 1
13:30 - 16:00

27 - 29 Juni 2008
Pameran Lingkungan Hidup Sukabumi
Lapangan Merdeka, Kota Sukabumi

1-3 Juli 2008
Pameran Indo Livestock

Pilih Kategori Anda

Archives

Top Posts

Artikel Sebelumnya

Survey

RSS Aku Belajar Hijau

Kampanye Hijau





Reduce Reuse Recycle Repair

Blogroll

Statistik Pengunjung

  • 174,028 Pengunjung

Statistik

Links