Disadur dari Harian Kompas tgl 21 Juni 2008

Sabtu, 21 Juni 2008 | 03:00 WIB
Sepeda pada zaman dulu hanya punya satu fungsi, yakni alat transportasi. Dengan berubahnya zaman, sepeda beralih fungsi. Sepeda bisa dipakai untuk berolahraga, sekadar bergaya, atau untuk kesenangan dan gengsi belaka.
Kini, saat manusia mulai terjepit kepadatan lalu lintas dan ”dikeroyok” polusi udara yang membahayakan serta kesadaran untuk hidup lebih ”sehat”, sepeda kembali diupayakan ke fungsi awalnya sebagai alat transportasi.
Itulah yang tengah diupayakan komunitas Bike to Work. Organisasi itu ingin mengembalikan fungsi awal sepeda dengan menyosialisasikan bersepeda untuk bekerja. (more…)
21 Juni, 2008
Konsorsium Sepeda Untuk Sekolah adalah program yang dibuat dalam rangka menekan angka anak putus sekolah yang diakibatkan karena mahalnya biaya transportasi sebagai dampak langsung tingginya harga BBM di Indonesia, serta mendorong kebiasaan penggunaan kendaraan bebas emisi gas buang sejak awal di sekolah. Konsorsium ini terdiri dari: (1) The CBE (The Centre for the Betterment of Education), (2) Klub Guru, (3) Bike To Work (B2W), dan (4) Ikatan Alumni UI (Iluni UI).
Target dari konsorsium ini adalah seperti yang tertera di website Sepeda Untuk Sekolah adalah diantaranya untuk mengumpulkan sepeda (bekas atau baru) dari berbagai pihak (perorangan atau institusi) dan menyumbangkannya kepada desa atau sekolah yang membutuhkan. Selanjutnya desa atau sekolah tersebut meminjamkan sepeda kepada anak usia sekolah yang memerlukan untuk pergi ke sekolah berboncengan. Selain itu target lainnya adalah untuk memasyarakatkan kembali tradisi bersepeda di sekolah sehingga mengurangi emisi gas buang, berbiaya murah dan sehat serta hemat enersi. (more…)
14 Juni, 2008

Rotary International, Distrik Indonesia mengadakan acara Green-a-thon, yaitu acara Fun Walk sebagai bagian dari tema peduli lingkungan dari salah satu klub sosial di Indonesia. Acara diadakan pada tanggal 29 Juni 2008 pada jam 7:00 untuk gerak jalan yang akan dimulai dari Grand Indonesia, lewat Thamrin sampai patung Arjuna depan Gedung Indosat dan kembali ke Grand Indonesia.
Kontribusi sebagai sumbangan untuk acara ini adalah Rp. 25.000,– per orang dimana dana tersebut dapat dipastikan menjadi dana sosial di kemudian hari.
Poster dan informasi lebih lengkap bisa diklik disini. Ayo ikut rame-rame!
8 Juni, 2008
“Buka Hati Saatnya Peduli”
Indonesia 2008 dan Pekan Lingkungan Indonesia 2008 akan diselenggarakan pada 5-8 Juni 2008
di Jakarta Convention Center.
Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup yang jatuh pada tanggal 5 Juni, Kementrian Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia bekerja sama dengan PT. Antheus Indonesia berinisiatif mengadakan Pekan Lingkungan Indonesia tahun 2008 yang saat ini merupakan penyelenggaraan yang ke 12 kalinya. Pameran ini merupakan salah satu moment penting dalam menumbuhkan kesadaran masyarakat bahwa lingkungan tidak hanya merupakan tanggung jawab individu, tetapi merupakan perwujudan tanggung jawab bersama.
(more…)
5 Juni, 2008
Disadur dari kompas.com. 14 April 2008.
Ingkan Harahap (54), Rabu (9/4), memanen padi di atas loteng rumahnya di Kompleks Perumahan Sumbersari Indah, Kota Bandung. Padahal, empat bulan lalu lahan loteng seluas sekitar 50 meter persegi itu gersang. Selain padi, di atas loteng itu Ingkan juga menanam sawi, cabai, labu kuning, dan kangkung.
Bersandal bakiak dan gunting tanaman ia memangkas beberapa batang padi. Padi yang dipanen langsung di injak-injak agar bulir-bulir lepas dari batang dan siap dijemur. Setampah gabah hasil panen beberapa hari sebelumnya sedang dijemur. Gabah kering tersebut sudah siap ditumbuk agar kulitnya mengelupas.
Ingkan memang bukan petani. Dia tak punya lesung kayu. Ia hanya mempunyai lesung batu. “Saya mencoba menggunakan yang ada saja. Saya alasi lesung dengan jerami agar tumbukan tidak terlalu keras dan membuat bulir beras hancur,” ujar Ingkan. (more…)
21 Mei, 2008

“Banyak hal membuktikan, kesadaran bangkit disebabkan hal-hal kecil, dari perubahan-perubahan yang sering tak teramati karena sifat kesehariannya, yang betapapun di baliknya sebenarnya tersimpan gerak modernisasi.”
Bre Redana
Dalam artikel “Kebangsaan: Imajinasi Masa Lalu”
Liputan Khusus 100 Tahun Kebangkitan Nasional
Kompas 19 mei 2008
19 Mei, 2008

Beberapa hari lalu saya sempat mampir ke toko buku Aksara yang ada di Plaza Indonesia. Ternyata sekarang mereka pun sudah Go Green dengan memberikan pilihan pada pelanggan untuk membawa tas belanja sendiri. Kalau belum punya, maka bisa juga beli tas belanja versi Aksara.
Untuk banyak perusahaan retail yang ingin terlihat ramah lingkungan, maka langkah ini merupakan langkah awal yang sangat baik karena akan mengurangi penggunaan kantong plastik. Paling tidak dengan hal ini pun mereka bisa menjual tas tersebut dan tetap mendapat untung. Selain ini, perusahaan pun harus mulai menerapkan hal lain seperti menghilangkan penggunaan lampu pijar, mematikan kran air di wc (berapa banyak kita pergi ke WC umum dimana kran air terus menyala walaupun ember sudah penuh), menaruh pot-pot tanaman di dalam ruangan, melarang merokok di tempat kerja, dan lain-lain.
Yang penting mulai dulu dan bisa terus berinovasi untuk menghemat energi dan melestarikan lingkungan. Semakin banyak yang mengikuti semakin baik.
1 Mei, 2008

Diambil dari Harian kompas, Jumat 25 April 2008.
Oleh NIRWONO JOGA
“The best friend on earth of man is the tree. When we use the tree respectfully and economically, we have one of the greatest resources of the earth”. (Arsitek Frank Lloyd Wright)
Banyak cara dapat kita lakukan untuk menyelamatkan Bumi yang kian rapuh. Salah satunya dengan menanam pohon, sang primadona efek pemanasan Bumi, penyelamat lingkungan.
Pohon adalah salah satu keajaiban alam terhebat. Semua ajaran agama dengan tegas menempatkan pohon menjadi simbol dan sumber kehidupan manusia. Relief-relief di Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan candi-candi lain melukiskan pohon dalam kehidupan kita. Sakral dan romantis. Cinta dan kedamaian terukir dengan menanam pohon dan segala aktivitas kehidupan di bawah pohon. Kebencian dan anarki dilukiskan dengan menebang pohon.
Pohon adalah pembentuk ruang paling dasar (akar dan tanah = lantai, batang = tiang, ranting dan daun = atap) yang menciptakan keteduhan agar manusia dapat melakukan aktivitas di bawahnya. Sang Buddha Gautama merenung hening di bawah pohon Bodi (Ficus religiosa). Para murid yang sekolahnya ambruk tetap dapat belajar di bawah kerindangan pohon.
Bumi dan perempuan adalah satu. Kata bumi sendiri berkonotasi perempuan. Bumi tempat pohon berpijak menghujamkan akarnya. Bumi, pohon, dan perempuan menginspirasi Sutradara Garin Nugroho untuk membuat film terbarunya berjudul Under The Tree. Bagi Garin, pohon mempunyai banyak makna yang menjadi bagian tak terlupakan dalam kehidupan semua orang di Bumi. Pohon dan perempuan juga telah mendorong Gerakan Perempuan Tanam dan Pelihara Sepuluh Juta Pohon (1/12/2007) untuk menyelamatkan Bumi. (more…)
25 April, 2008