Dengan adanya rencana pemerintah untuk menaikkan BBM, maka demo pun mulai marak lagi terutama di ibukota Jakarta. Para pendemo ini ceritanya selalu menginginkan perubahan dari pemerintah, mengutarakan keinginan rakyat, dan lain-lain. Saya suka sebal juga kalau demo malah bikin macet. Tapi bukan itu saja ulah mereka yang katanya lebih memiliki pola pikir yang berbeda, maju, modern, dan bisa dibilang anak sekolahan karena banyak dari pendemo adalah mahasiswa.
Saya bukannya anti-demo. Demo adalah salah satu bentuk wujud demokrasi di Indonesia dimana rakyat memberikan suaranya kepada pemerintah.
Tapi coba perhatikan deh cara-cara demo. Ada yang memakai spanduk, selebaran, pamflet, stiker, sampai karton dan kayu yang ditulisi macam-macam dan yang paing parah membakar ban. Apalagi setelah demo selesai. Bukannya masalah selesai malah membuat masalah baru karena para pendemo dengan seenaknya membuang sampah sembarangan mulai dari bekas selebaran yang asal dibuang, kantong plastik bekas minum, botol air mineral, permen, dan lain-lain. Memang yang senang sih para pemulung, tetapi anak sekolahan yang katanya berilmu tinggi dan jago cuap-cuap malah tidak introspeksi diri untuk berubah dulu dari hal yang kecil, yaitu membuang sampah dengan benar. Katanya yang suka demo itu berarti aktif di kampus, kritis ke masalah-masalah negara, membela masyarakat, dan mungkin cita-citanya jadi politisi. Bagaimana politisi kita bisa pada bener kalau baru demo saja sudah asal buang sampah. Itu namanya bibit politisi yang tidak tahu aturan, tidak introspeksi diri dan tidak memberi contoh yang baik. (more…)
21 Mei, 2008

Disadur dari Kompas.co.id
Jakarta, Kompas - Program Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menjadikan bersepeda sebagai bagian dari kegiatan rutin masyarakat dengan tujuan menjaga kesehatan serta mengurangi polusi didukung banyak pihak. Setelah program hari bebas kendaraan bermotor di Jalan Sudirman-Thamrin tiap akhir pekan, kawasan wisata Ancol pun kini menyediakan jalur bersepeda sepanjang 15 kilometer.
”Dengan rutin bersepeda pun masyarakat dapat menyelamatkan lingkungan. Kami membuat jalur sepeda ini sebagai ajakan kepada masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang tertata, sehat dan hijau,” kata Kepala Bidang Corporate Communications PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk Sofia Cakti, Sabtu (17/5).
Sedikitnya 1.500 warga Jakarta turut memeriahkan pembukaan resmi jalur bersepeda di kawasan properti dan rekreasi Ancol, Sabtu sekitar pukul 06.00. Mereka yang berpartisipasi adalah masyarakat umum, klub sepeda, warga properti Jaya Ancol, pengunjung kawasan rekreasi, dan manajemen Ancol. (more…)
19 Mei, 2008
Disadur dari TEMPO Interaktif
04 Desember 2007
Oleh Jajang Jamaludin
Pemerintah Kota Cirebon meraih penghargaan sebagai salah satu kota terbaik di Asia Tenggara dalam upaya pengendalian rokok.
“Pemerintah setempat menunjukkan komitmen kuat untuk menerapkan kawasan 100 persen bebas rokok,” kata Bungon Ritthipakdee, Direktur Southeast Asia Tobacco Control Alliance (Seatca)—organisasi nirlaba pemberi penghargaan itu—di Bangkok, Thailand, Selasa.
Menurut Bungon, Pemerintah Kota Cirebon menunjukkan
contoh yang baik kepada daerah lain di Indonesia.
Sebab, Kota Cirebon telah memasukkan kriteria “kawasan
bebas rokok” dalam rencana pengembangan kotanya. (more…)
4 Desember, 2007
Kabar baik bagi pencinta lingkungan! Pemprov DKI baru saja menetapkan bahwa akhir pekan minggu keempat setiap bulan menjadi kawasan tanpa kendaraan bermotor mulai Desember 2007.
Biasa kawasan yang kosong akan menjadi tempat untuk olahraga jogging atau naik sepeda ditambah dengan pedagang penjaja makanan dan barang. Nah ini yang harus hati-hati. Jangan sampai udara jadi lebih bersih tetapi tetap buang sampah sembarangan yang akhirnya sama saja merusak lingkungan. Jadi tema harus konsisten agar pemerintah juga membuat acara setiap bulan ini sebagai ajang sosialisasi masalah lingkungan dan menerapkannya sehingga orang pun bisa ikut berpartisipasi.
Yang bagus juga adalah peremajaan Kota Tua yang biasa kita kenal lapangan Fatahilah yang juga dibuat bebas kendaraan bermotor. Mudah-mudahan bisa mempercantik daerah tersebut sebagai tujuan pariwisata yang baik.
Paling tidak sudah ada awal yang baik dulu. Kita dukung deh!
22 Nopember, 2007

Nah ini dia yang ditunggu-tunggu. Setelah begitu banyak dukungan dari Gubernur DKI Fauzi Bowo dan juga Bp. Andi Malaranggeng terhadap komunitas Bike To Work, kali ini giliran Presiden SBY yang berkata,”Berilah ruang agar kegiatan bersepeda bisa dijalankan dengan baik termasuk kegiatan Bike To Work” yang ditujukan kepada pemerintah provinsi, kota dan kabupaten di seluruh Indonesia dalam pidato pelepasan kontingen Bicycle For Earth Goes To Bali di pelataran Monas, Jakarta tgl 11 November 2007.
Beliau juga menambahkan,”Bersama, mari kita selamatkan bumi yang kita huni.” Paling tidak tahap awal para penggowes bisa pakai jalur busway deh sebelum ada jalur khusus sepeda.

Siapa yang belum naik sepeda? Hayo deh rame-rame beli sepeda. Merek lokal juga sudah semakin baik, gak musti pakai merek luar negeri yang mahal. Yang penting naik sepeda dulu dan mudah-mudahan dengan dukungan pemerintah juga bisa menggowes dengan enak di seluruh kota di Indonesia.
11 Nopember, 2007

Liburan kali ini datang dengan penuh makna dengan lahirnya putra pertama saya pas tgl 12 Oktober ketika kebanyakan orang sudah pergi berlibur. Jadi jalanan waktu ke rumah sakit juga benar-benar lowong. 2 hari di RS, pulang pun masih sepi. Mudah-mudahan bisa menjadi bayi dengan perawatan yang ramah lingkungan. Saya sudah pernah menulis mengenai bahwa menggunakan ASI jauh lebih ramah lingkungan, tetapi ternyata memakai ASI bukan hanya ramah lingkungan tetapi jauh lebih sehat.
Yang pasti dengan memakai ASI:
- Hemat dan ekonomis. Bayi hampir tidak pernah sakit dan tidak perlu membeli susu serta perlengkapannya yang mahal. Dengan susu formula, sapi perlu di ternakkan dahulu, dan kotoran sapi mengeluarkan gas metan yang lebih berbahaya untuk ozon daripada CO2. Susu lalu dikirim dan diproses untuk menjadi susu bubuk. Dikemas dan dikirim. Betapa banyak dan borosnya proses tersebut dibandingkan ASI. (more…)
12 Oktober, 2007
Diambil dari Kompas, 7 Oktober 2007
Oleh: Evawani Ellisa, Pengajar di Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Indonesia.

Gambar diatas adalah sebuah mal bernama Namba Park yang terletak di kota Osaka
Di kawasan kota yang telanjur padat, memperoleh lahan terbuka bukanlah soal mudah. DKI Jakarta dengan lahan seluas 66.126 hektar dan ruang hijau 9 persen atau 5.951 hektar, perlu membebaskan sekitar 13.000 hektar lahan bila ingin memenuhi patokan lazim 30 persen lahan terbuka hijau.
Jepang juga menghadapi persoalan sama. Sejak abad ke-17, sifat land hungry (lapar lahan) dalam praktik mengonsumsi lahan perkotaan telah menyebabkan tampilan kota di Jepang tak jauh berbeda dari kota besar Asia lainnya.
Karena lahan perkotaan telah telanjur disesaki bangunan, maka sasaran perolehan sel-sel hijau daun beralih pada hamparan atap datar gedung-gedung yang justru lebih banyak dibanjiri cahaya matahari. Sebenarnya gerakan atap hijau telah muncul di Jepang sejak awal abad ke-20 melalui konsep eco-roof, tetapi sifat pengembangannya masih ekstensif. Atap hijau jenis ini ditandai struktur atap beton konvensional dengan biaya dan perawatan taman relatif murah karena penghijauan atap hanya mengandalkan tanaman perdu dengan lapisan tanah tipis. (more…)
7 Oktober, 2007